Pasar
Dampak Global dari Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS
2025-01-13

Laporan pekerjaan yang lebih baik dari ekspektasi di Amerika Serikat (AS) telah mendorong imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023. Namun, para pelaku pasar keuangan mulai merasa khawatir tentang dampak ini terhadap ekonomi global. Beberapa analis mengaitkan kenaikan imbal hasil dengan potensi tarif perdagangan yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menyebabkan inflasi. Di Inggris, imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai rekor tertinggi dalam 27 tahun, sementara pound sterling dan euro melemah signifikan. Di Indonesia, pemerintah berusaha menjaga stabilitas ekonomi menghadapi tekanan dari kebijakan AS di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Imbas Ekonomi Global Terhadap Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

Kenaikan imbal hasil obligasi AS memiliki efek luas di seluruh dunia, terutama pada negara-negara dengan ekonomi yang lebih lemah. Di Inggris, imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai tingkat tertinggi dalam 27 tahun, menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah dan investor. Prancis juga mengalami tantangan serupa, dengan biaya pinjaman yang meningkat tajam. Situasi ini semakin diperburuk oleh ketidakstabilan politik dan ekonomi global, yang membuat pelaku pasar menjadi waspada.

Di Inggris, imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai sekitar 5,4%, level tertinggi dalam hampir tiga dekade. Rachel Reeves, Kepala Departemen Keuangan Inggris, berusaha menenangkan pasar obligasi sambil menetapkan ambisi pertumbuhan moderat dalam anggaran terbarunya. Namun, tekanan kuat dari luar negeri tetap menjadi tantangan besar. Di Prancis, pemerintah menghadapi situasi sulit karena kebuntuan parlemen dan biaya pinjaman yang melonjak, bahkan melebihi Yunani. Tanda-tanda masalah ini tercermin dalam pelemahan pound sterling dan euro, yang turun mendekati paritas dengan dolar AS. S&P 500 dan Stoxx Europe 600 juga mengalami penurunan signifikan, mencerminkan ketidakpastian pasar global.

Dampak Kebijakan AS pada Ekonomi Indonesia

Menguatnya dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Paman Sam setelah pemilihan ulang Donald Trump sebagai presiden ikut menjadi perhatian di Indonesia. Biaya pinjaman yang lebih mahal akibat kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan pelemahan rupiah terhadap dolar menjadi tantangan utama. Meski demikian, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengatasi sentimen negatif investor di pasar keuangan.

Donald Trump, yang kembali memenangkan Pilpres AS pada 2024, telah merancang berbagai kebijakan ekonomi yang mengganggu sentimen pasar, termasuk pengenaan tarif perdagangan tinggi, pemotongan pajak, dan belanja fiskal besar-besaran. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil US Treasury akan berdampak pada pasar emerging markets, termasuk Indonesia. Meski yield SBN 10 tahun naik dari 6,95% ke 7,18%, spread antara SBN rupiah dengan UST cukup ketat, menunjukkan kepercayaan investor global terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5%, inflasi terkendali, defisit fiskal terjaga, dan utang yang terkontrol, sehingga masih menarik bagi investor asing.

More Stories
see more