Pada adaptasi film Korea berjudul A Business Proposal, dua aktor Indonesia, Abidzar Al Ghifari dan Ariel Tatum, mendapatkan respons yang sangat berbeda dari publik. Sementara Ariel mendapat pujian atas dedikasinya terhadap karakternya, Abidzar justru menjadi sasaran kritik tajam. Keduanya muncul di sebuah podcast untuk membahas pengalaman mereka dalam film tersebut. Ariel dikenal telah bekerja keras untuk memahami karakter Sari, yang aslinya dimainkan oleh Kim Sejeong dalam versi drama Korea. Namun, Abidzar mengaku hanya menonton satu episode dari drama asli dan memilih untuk menciptakan karakter sendiri. Hal ini memicu berbagai tanggapan negatif dari netizen, yang menyoroti sikap Abidzar yang dinilai kurang serius.
Ketika Ariel Tatum menerima peran sebagai Sari, dia menyadari tantangan besar yang harus dihadapi. Karakter ini sudah sangat ikonik karena diperankan oleh Kim Sejeong dalam versi aslinya. Ariel mengakui bahwa dia merasa terbebani oleh ekspektasi tinggi yang ditimpakan padanya. Dia menjelaskan bahwa proses persiapan perannya melibatkan penelitian mendalam dan usaha ekstra untuk menangkap esensi karakter Sari. "Saya mencoba sekuat tenaga untuk memahami karakter ini, meski sulit menemukan kesamaan dengan diri saya," ungkap Ariel. Dedikasi ini mendapat apresiasi dari banyak penonton, yang mengakui upayanya untuk tetap setia pada sumber asli.
Berbeda dengan pendekatan Ariel, Abidzar Al Ghifari memilih jalan yang lebih independen. Dia mengungkapkan bahwa dirinya hanya menonton satu episode dari drama Korea asli dan kemudian fokus pada menciptakan karakter yang unik. Pernyataan ini menuai reaksi keras dari warganet. Banyak yang merasa bahwa Abidzar kurang menghormati materi asli dan tidak sepenuhnya mempersiapkan diri. Beberapa komentar di media sosial menyoroti kekurangan Abidzar dalam hal promosi dan komunikasi publik. "Seharusnya dia belajar dari Ariel Tatum tentang bagaimana menghargai pekerjaan orang lain," tulis seorang netizen. Kritik ini menunjukkan bahwa publik mengharapkan para aktor untuk lebih serius dalam persiapan peran mereka, terutama ketika menangani adaptasi dari karya yang sudah populer.
Situasi ini menyoroti pentingnya persiapan yang matang dan dedikasi dalam dunia akting. Respons yang beragam terhadap kedua aktor ini menunjukkan bahwa penonton menghargai usaha yang dilakukan oleh para seniman untuk tetap setia pada sumber asli karya mereka. Meski demikian, adaptasi film seperti A Business Proposal juga memberikan ruang bagi para aktor untuk mengeksplorasi interpretasi mereka sendiri, selama tetap menghormati esensi cerita aslinya. Dengan demikian, adaptasi film bukan hanya tentang mereproduksi, tetapi juga tentang menambah nilai baru yang bisa dinikmati oleh penonton.