Pasar
Penurunan IHSG Ditengah Sentimen Negatif dari AS
2025-01-13

Pada akhir perdagangan sesi pertama Senin (13/1/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan seiring dengan berita kurang menggembirakan dari Amerika Serikat. Kabar tersebut menunjukkan bahwa laporan pekerjaan terbaru di AS dapat meredupkan harapan investor untuk pemangkasan suku bunga bank sentral AS dalam waktu dekat. Pada pukul 12:00 WIB, IHSG turun 0,45% ke posisi 7.056,86, meski masih bertahan di level psikologis 7.000.

Dalam sesi perdagangan pagi ini, nilai transaksi indeks mencapai sekitar Rp 5,9 triliun dengan total 9,4 miliar saham yang dipertukarkan sebanyak 874.236 kali. Sektor keuangan menjadi faktor utama yang menekan IHSG, dengan penurunan mencapai 1%. Emiten perbankan besar juga berkontribusi signifikan pada penurunan ini, khususnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Astra International Tbk.

Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh sentimen global, terutama karena kenaikan tajam dolar AS pada Minggu kemarin dan data laporan pekerjaan AS yang kurang memuaskan. Indeks dolar AS (DXY) saat ini berada di level psikologis 109. Data lapangan kerja AS menunjukkan penambahan 256.000 pekerjaan pada Desember 2024, lebih tinggi dari ekspektasi ekonom sebesar 155.000. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%, sementara imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun melonjak ke level tertinggi sejak akhir 2023.

Data ini meredupkan harapan investor untuk pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Pasar juga menanti rilis data inflasi AS Januari 2025 yang akan dirilis besok. Berdasarkan konsensus Trading Economics, PPI AS pada Desember 2024 diperkirakan mencapai 3,2% yoy, menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Data inflasi AS akan dipantau ketat oleh pasar mulai hari ini, karena dapat memberikan sinyal tentang kondisi daya beli masyarakat AS dan kebijakan suku bunga The Fed di pertemuan selanjutnya.

Berbagai faktor global dan domestik telah berkontribusi pada penurunan IHSG pada sesi perdagangan pertama hari ini. Meskipun demikian, pelaku pasar tetap waspada terhadap perkembangan ekonomi global, khususnya data-data penting dari AS yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang. Situasi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar sangat bergantung pada indikator ekonomi makro dan kebijakan moneter dari bank-bank sentral dunia.

More Stories
see more