Pasar saham di wilayah Asia-Pasifik mengalami penurunan signifikan pada hari Senin, 13 Januari 2025. Penyebab utama adalah laporan pekerjaan Amerika Serikat yang dirilis Jumat lalu dan melampaui ekspektasi para analis. Data ini menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga meredupkan harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat. Indeks saham utama di berbagai negara Asia mencatatkan penurunan, sementara mata uang yuan Tiongkok juga melemah. Selain itu, pasar obligasi pemerintah Tiongkok juga mengalami fluktuasi akibat kebijakan bank sentral.
Data ekonomi AS yang kuat telah mempengaruhi pasar global, termasuk di kawasan Asia-Pasifik. Indeks S&P/ASX 200 Australia turun sebesar 0,84%, sedangkan futures indeks Hang Seng Hong Kong diperdagangkan lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya. Pasar saham Korea Selatan juga ikut melemah, dengan Kospi turun 0,4% dan Kosdaq 0,3%. Di Tiongkok, imbal hasil obligasi 10-tahun mencapai rekor terendah bulan ini, dan mata uang yuan menyentuh level terendah dalam 16 bulan terhadap dolar AS.
Investor di Asia tetap waspada terhadap data ekonomi penting yang akan dirilis minggu ini. China dijadwalkan merilis data perdagangan Desember dan data PDB kuartal keempat 2024 pada Jumat mendatang. Bank of Korea juga akan mengadakan pertemuan pada Kamis, sementara Australia akan mengumumkan tingkat pengangguran bulan Desember. Perhatian juga tertuju pada pergerakan obligasi pemerintah Tiongkok setelah bank sentral menghentikan pembelian obligasi pada Jumat lalu.
Saham-saham AS juga tidak luput dari dampak laporan pekerjaan yang kuat. Dow Jones Industrial Average kehilangan 696,75 poin atau 1,63%, ditutup di 41.938,45. S&P 500 turun 1,54% menjadi 5.827,04, dan Nasdaq Composite melemah 1,63% ke 19.161,63. Penurunan tersebut mendorong ketiga indeks utama masuk ke zona merah untuk tahun 2025. Tingkat pengangguran AS turun menjadi 4,1% pada bulan Desember, lebih rendah dari proyeksi 4,2%, dan imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun mencapai level tertinggi sejak akhir 2023.
Minggu ini dipenuhi dengan serangkaian rilis data ekonomi penting yang akan mempengaruhi pasar. Investor di seluruh dunia akan terus memantau perkembangan ini untuk menilai arah ekonomi global. Di Asia, fokus utama adalah pada data ekonomi Tiongkok dan Korsel, serta kebijakan moneter dari bank-bank sentral regional. Dengan adanya ketidakpastian ini, pasar saham dan mata uang di kawasan ini diperkirakan akan mengalami volatilitas yang tinggi.