Dalam rangka memperingati Hari Internasional Persaudaraan Manusia, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama telah menerbitkan edaran khusus yang mengarahkan para pemimpin agama untuk menyampaikan pesan-pesan persaudaraan dan keberlanjutan alam pada dua kali salat Jumat di awal tahun 2025. Edaran ini menekankan pentingnya inklusi sosial dan perlindungan lingkungan, sejalan dengan semangat Deklarasi Istiqlal dan visi kepemimpinan nasional.
Pada akhir bulan Januari hingga awal Februari 2025, seluruh pemuka agama di Indonesia diminta untuk menyampaikan pesan-pesan persaudaraan dan keberlanjutan alam melalui khotbah Jumat. Tepatnya pada tanggal 31 Januari dan 7 Februari, Direktorat Jenderal Bimas Islam mengeluarkan edaran yang ditujukan kepada berbagai instansi agama di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan. Tujuan utamanya adalah untuk mendukung peringatan Hari Internasional Persaudaraan Manusia yang jatuh pada 4 Februari setiap tahunnya.
Edaran ini mencakup dua poin utama: pertama, mendorong gerakan bersama untuk memberdayakan penyandang disabilitas menuju masa depan yang inklusif; kedua, merawat lingkungan agar tetap lestari. Abu Rokhmad, Dirjen Bimas Islam, menjelaskan bahwa tema-tema tersebut tidak hanya sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo dan Wapres Gibran, tetapi juga dengan Deklarasi Istiqlal yang telah ditandatangani oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Paus Fransiskus pada September 2024.
Selain itu, Kementerian Agama bekerja sama dengan Majelis Hukama Muslimin (MHM) juga menyelenggarakan lomba menulis naskah khotbah Jumat dengan total hadiah lebih dari 30 juta rupiah. Lomba ini bertujuan untuk mendorong kreativitas dalam menyampaikan pesan-pesan penting tersebut.
Para pemuka agama diberikan akses ke beberapa contoh naskah khotbah yang dapat diunduh melalui situs resmi Kementerian Agama. Dengan demikian, diharapkan pesan-pesan tersebut dapat tersampaikan secara efektif dan merata di seluruh Indonesia.
Berdasarkan inisiatif ini, kita dapat melihat upaya nyata pemerintah dalam mempromosikan nilai-nilai persaudaraan dan keberlanjutan alam. Hal ini bukan hanya sekadar retorika, melainkan langkah konkret untuk membentuk masyarakat yang lebih inklusif dan peduli terhadap lingkungan. Melalui pendekatan agama, pesan-pesan ini dapat lebih mudah diterima dan dipraktikkan oleh masyarakat luas.