Gaya Hidup
Gaji TKI Hong Kong Naik, Minimal Rp12 Juta Sebulan
2024-10-04

Kenaikan Upah Minimum Pembantu Rumah Tangga Asing di Hong Kong: Sebuah Langkah Maju atau Masih Jauh dari Cukup?

Pemerintah Hong Kong baru-baru ini mengumumkan kenaikan upah minimum untuk pekerja domestik atau pembantu rumah tangga asing sebesar 2,5 persen. Meskipun kenaikan ini dianggap sebagai langkah positif, kelompok pembantu rumah tangga mengatakan bahwa angka tersebut masih jauh di bawah tuntutan mereka. Artikel ini akan mengeksplorasi lebih dalam mengenai dampak dan implikasi dari kenaikan upah minimum ini bagi para pembantu rumah tangga asing di Hong Kong.

Memperjuangkan Upah yang Layak: Tantangan Bagi Pembantu Rumah Tangga Asing di Hong Kong

Kenaikan Upah Minimum: Sebuah Langkah Kecil yang Belum Cukup

Pemerintah Hong Kong telah mengumumkan kenaikan upah minimum untuk pembantu rumah tangga asing sebesar 2,5 persen, dari HK$4.870 (Rp 9,7 juta) menjadi HK$4.990 (Rp 10 juta) per bulan. Meskipun kenaikan ini dianggap sebagai langkah positif, kelompok pembantu rumah tangga mengatakan bahwa angka tersebut masih jauh di bawah tuntutan mereka, yakni sekitar HK$6.000 (Rp 12 juta) belum termasuk uang makan. Sringatin, Sekretaris Serikat Buruh Migran asal Indonesia, menyatakan bahwa kenaikan ini "tidak adil dan mengabaikan kontribusi kami terhadap ekonomi dan masyarakat Hong Kong." Menurutnya, para pembantu rumah tangga menghadapi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan transportasi, sehingga kenaikan upah yang sangat kecil ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Perspektif Berbeda: Apakah Kenaikan Upah Sudah Memadai?

Meskipun para pembantu rumah tangga menuntut kenaikan upah yang lebih besar, Thomas Chan Tung-fung, ketua Serikat Pekerja Hong Kong, berpendapat bahwa kenaikan 2,5 persen ini sudah melebihi laju inflasi yang mencapai 1,7 persen pada 2023. Ia menjelaskan bahwa para pekerja mendapatkan sebagian besar kebutuhan mereka seperti makanan, perumahan, dan transportasi, sehingga inflasi memiliki dampak langsung yang minimal terhadap mereka. Satu-satunya biaya langsung yang mungkin mereka hadapi adalah jika mereka ingin membeli beberapa potong pakaian, tetapi harga pakaian tersebut sebenarnya turun pada bulan Agustus.

Upah Layak: Sebuah Tantangan yang Belum Terpenuhi

Eman Villanueva, juru bicara kelompok Mission For Migrant Workers, berpendapat bahwa meskipun kenaikan gaji sebesar 2,5 persen mungkin tampak signifikan bagi sebagian orang, hal itu masih jauh dari upah layak. Ia menjelaskan bahwa gaji minimum itu hampir tidak cukup untuk menghidupi keluarga beranggotakan lima orang, termasuk membayar sewa, biaya sekolah, perawatan kesehatan, dan utilitas. Lebih lanjut, Villanueva menyatakan bahwa para pembantu juga bekerja sangat berbeda dari angkatan kerja lainnya, dengan rata-rata jam kerja 12 hingga 16 jam sehari. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa upah mereka terlalu rendah dan tidak mencerminkan kontribusi mereka terhadap ekonomi dan masyarakat Hong Kong.

Mencari Solusi: Upaya Pemerintah dan Pembantu Rumah Tangga

Pemerintah Hong Kong telah mengambil langkah untuk meningkatkan upah minimum bagi pembantu rumah tangga asing, meskipun kenaikan tersebut masih dianggap belum cukup oleh kelompok pembantu rumah tangga. Sringatin menyatakan bahwa mereka akan terus memperjuangkan upah yang lebih layak, sementara Eman Villanueva menekankan pentingnya mempertimbangkan jam kerja yang panjang dan beban kerja yang berat yang dihadapi oleh para pembantu rumah tangga. Ke depannya, diharapkan adanya dialog yang lebih konstruktif antara pemerintah, majikan, dan pembantu rumah tangga untuk mencapai solusi yang adil dan berkelanjutan.
More Stories
see more