Ekonomi global menghadapi tantangan akibat kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang berdampak pada pasar keuangan. Kebijakan-kebijakan ini menciptakan ketidakpastian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan tersebut.
Sentimen negatif dari investor global telah mempengaruhi pasar keuangan, khususnya dengan meningkatnya imbal hasil surat berharga pemerintah AS (US Treasury Note). Situasi ini mendorong modal asing keluar dari negara-negara berkembang menuju AS, sehingga berpotensi menekan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) di Indonesia. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menyatakan bahwa dampak ini akan dirasakan melalui berbagai sektor, termasuk investasi, perdagangan, dan keuangan.
Pemerintah Indonesia proaktif dalam menghadapi risiko dengan memastikan kinerja makroekonomi tetap kuat. Upaya ini mencakup pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, dan keseimbangan pembayaran. Selain itu, strategi pembiayaan yang fleksibel dan oportunistik juga diterapkan untuk memastikan biaya bunga SBN tetap rendah dan risiko terkelola dengan baik. Meskipun ada peningkatan yield UST, daya tarik pasar SBN Indonesia masih tinggi bagi investor global karena spread antara SBN rupiah dan UST yang cukup tipis. Ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap kinerja ekonomi Indonesia yang stabil dan terjaga.
Keberlanjutan kinerja ekonomi Indonesia yang kuat menjadi faktor penting dalam menarik investasi portofolio. Dengan langkah-langkah proaktif dan strategis, pemerintah berharap dapat mempertahankan daya tarik investasi di Tanah Air, sekaligus memberikan kepastian kepada pelaku pasar bahwa Indonesia siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi global dengan fondasi yang kokoh.