Pada awal tahun 2025, mata uang rupiah mengalami tekanan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa nilai tukar rupiah tetap terkendali dan stabil dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lainnya. Gubernur BI menyatakan bahwa kebijakan stabilitas ekonomi yang kuat akan terus dijalankan untuk menjaga prospek pertumbuhan ekonomi yang positif.
Berada di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, rupiah mengalami penurunan sebesar 1% sejak akhir tahun 2024. Namun, dibandingkan dengan mata uang negara-negara berkembang lainnya seperti rupee India, peso Meksiko, dan baht Thailand, rupiah masih menunjukkan kinerja yang lebih baik. Di sisi lain, rupiah menguat terhadap mata uang negara maju di luar dolar AS dan tetap stabil terhadap mata uang negara berkembang lainnya.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu, 15 Januari 2025, Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, menekankan bahwa bank sentral akan terus berkomitmen untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar. Dia menambahkan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap kuat akan mendukung stabilitas rupiah di masa mendatang.
Gubernur BI juga menegaskan bahwa meskipun ada tantangan global, langkah-langkah kebijakan yang telah diambil oleh bank sentral akan membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional. "Kita harus optimis bahwa ekonomi kita akan tetap kuat," kata Perry.
Dengan pendekatan ini, BI berharap dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat dan pelaku pasar bahwa rupiah akan tetap stabil meskipun menghadapi berbagai tantangan global.
Dari sudut pandang seorang jurnalis, situasi ini menunjukkan betapa pentingnya kebijakan moneter yang proaktif dalam menghadapi fluktuasi pasar internasional. Komitmen BI untuk menjaga stabilitas rupiah tidak hanya penting bagi ekonomi domestik, tetapi juga menciptakan lingkungan bisnis yang lebih stabil dan menarik bagi investasi asing.