Dalam beberapa bulan terakhir, gerakan anti-monarki di Inggris semakin meningkat, dengan ribuan orang menuntut pencabutan gelar kerajaan. Salah satu sasaran utama adalah gelar Pangeran Wales yang diberikan kepada Pangeran William. Meski menghadapi protes, sang pangeran tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh tuntutan tersebut. Gerakan ini dipimpin oleh kelompok Republic yang telah merencanakan serangkaian aksi demonstrasi. Selain itu, petisi online juga mendapat dukungan luas dari masyarakat, khususnya warga Wales yang merasa gelar tersebut merupakan simbol penindasan historis.
Kelompok-kelompok yang menentang sistem monarki semakin aktif dalam memobilisasi massa untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka. Mereka telah merencanakan dua acara besar yang akan menjadi ajang utama bagi para pendukung perubahan. Meskipun ada tekanan yang kuat, sikap Pangeran William tetap tidak berubah dan tampak santai menghadapi situasi ini. Kelompok-kelompok ini juga mencoba mempengaruhi parlemen melalui petisi yang telah dikumpulkan.
Gerakan anti-monarki ini tidak hanya berasal dari satu sumber tetapi melibatkan berbagai elemen masyarakat. Dua acara penting yang direncanakan oleh kelompok Republic yaitu Hari Republik 2025 pada 10 Mei dan Protes Trooping the Colour pada 14 Juni. Kedua acara ini diharapkan dapat menjadi momentum penting bagi para aktivis untuk menyuarakan aspirasi mereka. Petisi yang dibuat oleh Dr Trystan Gruffyadd, seorang warga Pontypridd, Wales, telah berhasil mengumpulkan lebih dari 42.000 tanda tangan. Petisi ini mengkritik penggunaan gelar Pangeran Wales sebagai simbol dominasi Inggris atas Wales, yang dinilai masih relevan hingga saat ini.
Gelar Pangeran Wales bukan hanya sekadar simbol, tetapi juga memiliki makna historis yang dalam bagi banyak orang. Bagi sebagian warga Wales, gelar tersebut dianggap sebagai pengingat tentang masa lalu yang penuh konflik. Isu ini telah memicu diskusi panjang tentang identitas nasional dan hubungan antara Wales dan Inggris. Para aktivis menekankan bahwa gelar tersebut harus dihapus untuk menghormati sejarah dan martabat bangsa Wales.
Banyak komentar di platform petisi menunjukkan kekecewaan yang mendalam terhadap keputusan Raja Charles untuk memberikan gelar tersebut kepada Pangeran William. Beberapa komentar bahkan menyebut gelar tersebut sebagai "ludah di wajah semua orang Welsh". Gelar Pangeran Wales sendiri telah ada sejak zaman Llywelyn the Last dan Owain Glyndwr, tokoh-tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Wales. Para aktivis menegaskan bahwa gelar tersebut hanya memperkuat dominasi Inggris dan merusak status Wales sebagai sebuah bangsa mandiri. Petisi ini juga menyoroti pentingnya mendengarkan suara rakyat dalam proses demokrasi, di mana setiap tanda tangan mewakili suara kolektif yang mendukung perubahan.