Pasar
Kebijakan Moneter BI Dorong Lonjakan IHSG di Awal Tahun 2025
2025-01-15
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan pada akhir perdagangan Rabu (15/1/2025), setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan penurunan suku bunga acuan. Kebijakan ini mendorong optimisme investor dan memacu kinerja sektor keuangan serta properti.

MOMENTUM PASAR SAHAM: KEPUTUSAN MONETER YANG MEMICU PERUBAHAN

Performa Pasar Saham yang Menggembirakan

Pada akhir perdagangan Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat menggembirakan dengan kenaikan hingga 1,77% dan mencapai posisi 7.079,56. Kenaikan ini membawa indeks mendekati level psikologis penting 7.100, setelah sebelumnya berada di level 6.900. Transaksi hari itu mencapai Rp 10,4 triliun, melibatkan 18,4 miliar saham yang diperdagangkan sebanyak 1,4 juta kali.Dalam sesi perdagangan tersebut, sektor keuangan dan properti menjadi penopang utama kenaikan IHSG, dengan masing-masing kontribusi 3,12% dan 2,63%. Saham-saham perbankan raksasa seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) memberikan dampak signifikan terhadap lonjakan indeks. BBRI sendiri menyumbang 42,9 indeks poin, sementara BMRI, BBCA, dan BBNI masing-masing menyumbang 36,5, 14,9, dan 9,8 indeks poin.

Pengaruh Penurunan Suku Bunga oleh BI

Kenaikan IHSG yang mencolok tidak lepas dari kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Pada pertemuan awal tahun 2025, BI secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Ini merupakan penurunan suku bunga pertama di tahun ini, setelah penurunan serupa pada September tahun lalu.Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan ini sejalan dengan pandangan bank sentral untuk mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Menurut Perry, dinamika global dan domestik menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan ini. Dinamika global, termasuk arah kebijakan pemerintah AS dan Fed Fund Rate (FFR), telah dipantau dengan seksama oleh BI. Perry menambahkan bahwa penurunan FFR pada tahun ini diperkirakan hanya sebanyak satu kali, yang memungkinkan BI untuk memperkirakan arah pergerakan dolar indeks (DXY).

Dinamika Ekonomi Domestik dan Prospek Masa Depan

Selain faktor global, BI juga mempertimbangkan kondisi ekonomi domestik. Inflasi dalam negeri yang rendah dan diproyeksikan tetap rendah ke depan menjadi salah satu alasan kuat untuk melakukan penurunan suku bunga. Dengan inflasi yang terkendali, ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka luas. Selain itu, BI percaya bahwa nilai tukar rupiah saat ini stabil dan sejalan dengan nilai fundamentalnya.Data survei ekonomi BI menunjukkan adanya kecenderungan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah pada tahun ini. Pelemahan ini sudah mulai terlihat sejak kuartal IV-2024 dan diperkirakan akan berlanjut. Meski demikian, BI yakin bahwa penurunan suku bunga dapat menciptakan cerita pertumbuhan yang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2024 sedikit di bawah 5%, namun masih di atas 5,1%. Untuk tahun 2025, proyeksi pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada antara 4,7% hingga 5,5%.

Saham-Saham Lain yang Menjadi Penopang IHSG

Tidak hanya saham perbankan raksasa, beberapa saham lain juga turut menjadi penopang kenaikan IHSG. PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memberikan kontribusi signifikan dengan masing-masing menyumbang 7,2 dan 3,4 indeks poin. Performa saham-saham ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis perusahaan-perusahaan tersebut.Saham-saham unggulan ini menunjukkan potensi yang besar dalam mendukung kinerja pasar saham Indonesia. Investor semakin optimis dengan kebijakan moneter yang responsif dan dinamika ekonomi yang positif. Dengan dukungan dari berbagai sektor, pasar saham Indonesia berpotensi untuk terus menguat di masa mendatang.
More Stories
see more