Di tengah dinamika ekonomi global yang tak menentu, pelaku usaha Indonesia berharap adanya langkah strategis dari pemerintah untuk memperluas akses pasar ekspor-impor. Salah satu tantangan utama adalah ancaman pengenaan tarif impor bagi negara-negara blok ekonomi BRICS yang sedang menggalakkan dedolarisasi. Dalam konteks ini, Benny Soetrisno, Ketua Umum GPEI, menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor-impor ke negara-negara potensial lainnya, seperti India dan Afrika.
Benny menjelaskan bahwa dedolarisasi dapat membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara yang bukan lagi bergantung pada dolar AS. Namun, hal ini juga memerlukan persiapan matang, termasuk penyesuaian regulasi dan strategi perdagangan. Ekspansi pasar ke negara-negara BRICS, misalnya, bisa menjadi solusi alternatif yang efektif untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
Kebijakan baru yang memperpanjang periode penempatan DHE menjadi 1 tahun memiliki dampak signifikan terhadap dunia usaha, terutama sektor komoditas industri. Para pengusaha menyampaikan kekhawatiran mereka terkait beban tambahan yang ditimbulkan oleh perpanjangan ini. Misalnya, sektor komoditas industri yang biasanya memiliki siklus perdagangan 3 bulan akan mengalami tekanan pada arus kas perusahaan jika harus menahan devisa selama 1 tahun.
Benny Soetrisno menyoroti pentingnya kepastian hukum dan dukungan pemerintah untuk sektor-sektor yang terdampak. Dia menyarankan agar pemerintah memberikan insentif atau fasilitas khusus kepada perusahaan yang mengalami kesulitan akibat kebijakan ini. Selain itu, dia juga menekankan perlunya dialog intensif antara pemerintah dan pelaku usaha untuk mencari solusi yang saling menguntungkan.
Kebijakan penempatan DHE 1 tahun memiliki implikasi yang luas terhadap ekonomi nasional. Di satu sisi, langkah ini dapat meningkatkan likuiditas mata uang asing di dalam negeri, yang berpotensi mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Di sisi lain, ada risiko penurunan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional jika perusahaan mengalami kendala dalam manajemen arus kas.
Benny Soetrisno menjelaskan bahwa penerapan kebijakan ini harus dilakukan secara hati-hati, dengan pertimbangan terhadap kondisi masing-masing sektor. Misalnya, sektor industri yang memiliki siklus perdagangan pendek mungkin membutuhkan fleksibilitas lebih dalam penempatan devisa. Sementara itu, sektor-sektor lain yang memiliki siklus perdagangan lebih panjang mungkin dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik. Analisis mendalam terhadap dampak kebijakan ini sangat penting untuk memastikan tidak ada sektor yang tertinggal.