Dalam konflik yang berlangsung selama 15 bulan terakhir, Jalur Gaza telah menjadi saksi dari serangkaian pertempuran antara Hamas dan Israel. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyampaikan pandangan yang mengejutkan dalam pidatonya di Atlantic Council. Dia mengakui bahwa meskipun Hamas mengalami kerugian besar, gerakan ini tetap mampu merekrut pejuang baru dalam jumlah yang signifikan. Situasi ini menunjukkan potensi pemberontakan yang berkelanjutan dan konflik yang tidak akan segera berakhir.
Bulan Januari, tepatnya pada tanggal 14, beberapa hari sebelum gencatan senjata diberlakukan, dunia menyaksikan bagaimana Hamas berhasil bertahan di tengah serangan intensif oleh pasukan Israel. Dalam periode tersebut, Hamas kehilangan ribuan pejuang, termasuk pemimpin militer pentingnya. Namun, ketika debu perang mulai mereda, jelas bahwa Hamas masih memegang kendali penuh atas Jalur Gaza. Pejuang-pejuang Hamas bahkan tampil dengan gagah saat penyerahan tawanan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Ini menunjukkan bahwa walaupun mengalami kerugian besar, Hamas tetap memiliki kehadiran yang kuat di wilayah tersebut.
Masyarakat internasional kini harus menghadapi realitas bahwa Hamas tidak mudah dikalahkan. Hugh Lovatt dari Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri menekankan bahwa setelah lebih dari satu tahun pertempuran, Hamas masih mengendalikan Jalur Gaza secara efektif. Hal ini juga dibuktikan oleh reaksi warga Palestina yang terkejut melihat jumlah pejuang Qassam yang masih banyak, menunjukkan bahwa Hamas memiliki kapabilitas untuk mempertahankan posisinya.
Sebagai jurnalis, situasi ini memberikan kita pelajaran penting tentang ketahanan dan daya adaptasi manusia dalam menghadapi tekanan ekstrem. Meskipun mengalami kerugian besar, Hamas berhasil mempertahankan kontrol dan relevansinya di Jalur Gaza. Ini menunjukkan bahwa solusi damai dan dialog adalah jalan yang lebih efektif untuk mencapai perdamaian jangka panjang, daripada pendekatan militer yang hanya membawa penderitaan bagi kedua belah pihak.